Tidak Ada Penjual Es Teh di Perayaan Juara Liverpool

Final Liga Champions tahun ini jadi waktu bedug buat Liverpool setelah puasa panjang dari gelar prestigious. Hampir 14 tahun Liverpool puasa gelar bergengsi macam Liga Champions dan Liga Premier Inggris. Gelar terakhirnya cuma Piala Liga tahun 2011-2012. Kehitung juara tidak ya? Berkat kesabaran fans dari bullyan itu akhirnya Tuhan memberikan juara lagi untuk Liverpool. Klub yang dulu punya sejarah jadi klub besar kembali ke posisinya.
Puasa gelar yang lama membuat ketika juara ya tau sendiri, pasti euforianya sangat sangat sangat. Fans Liverpool yang menonton di Madrid tempat final diselenggarakan langsung menginvasi kota itu. Madrid rasa Liverpool. Nyanyian You'll Never Walk Alone terdengar lantang dikota yang sebenarnya juga punya klub besar Real Madrid yang sekarang jadi tim medioker. Dan jangan lupakan juga Atletico Madrid tim yang gitu-gitu aja. Final Liga Champion sekejap mengubah kota itu memerah ke Merseyside-Merseyside an.
Di Madrid itu hanya sebagian kecil pesta perayaan juaranya Liverpool. Di Inggris tepatnya di daerah asal klub itu lebih meriah lagi. Parade membawa piala ke markas Liverpool disambut oleh banyak sekali warga kota itu. Teriakan chants Liverpool membuat sementara kota itu jadi ada disisi merah dan melupakan biru. Maklum kota itu ngga cuma Liverpool tok klubnya tapi ada Everton yang punya rivalitas yang panas.
Kegembiraan fans juga nampak dari jumlah yang menyambut piala "si kuping besar" ini. Mulai dari anak kecil sampai mbah-mbah semua rela menunggu para pemain Liverpool yang menggunakan bis double decker dengan atap terbuka. Tapi ada satu yang tidak kelihatan yaitu penjual es teh.
Beda dengan Indonesia, di perayaan juaranya Liverpool tidak ada satupun di siaran live Youtube klub penjual es teh yang muncul di tengah keramaian para fans. Di Indonesia tepatnya di tempat saya setiap ada keramaian macam karnaval budaya ulang tahun Banyumas yang diselenggarakan Pemerintah daerah banyak sekali pedagang es teh dengan nampan atau booth. Maaf kalo perbandingan acaranya tidak sama-sama kejuaraan sepak bola, karena maklum Banyumas masih belum keliatan mau juara Liga 1 Indonesia. Tapi disetiap adanya keramaian di Purwokerto tempat saya tinggal pasti ada bakul (pedagang) .
Tidak cuma es teh tapi lengkap mulai dari yang bisa dimakan dan diminum sampai yang tidak. Pedagang balon, mainan anak-anak, dan wahana anak-anak seperti odong-odong, mancing ikan, melukis di styrofoam, mainan pengeruk pasir masih banyak lagi. Sepertinya perayaan di Indonesia tidak sekedar cuma untuk bersenang-senang semata tapi bisa jadi peluang bisnis. Jangankan di acara perayaan, di masa kerusuhan 22 Mei kemarin yang terjadi di gedung Bawaslu saja ada beberapa penjual yang kelihatan jualan. Beberapa media bahkan juga mewawancarai dan menjadikan konten di medianya.
Rasanya orang-orang Merseyside tidak mengerti peribahasa sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui kayak kita. Kita punya pandangan lebih luas dalam hal melihat peluang dari mereka. Ngga cuma itu tok kita juga punya keberanian luar biasa. Dari contoh pedagang di kerusuhan 22 Mei kita bisa lihat bahwa kita itu berani menghadapi apapun dan tetap berfikir positif walaupun suasana lagi tidak kondusif. Itu kita.
Terakhir perayaan Liverpool juara Liga Champions sepertinya akan lebih seru jika ada di alun-alun Purwokerto. Bakal tidak cuma sekedar merayakan menang tapi juga bisa jadi peluang bisnis buat warga Purwokerto. Apalagi di sini perayaannya pasti akan lebih meriah ngga cuma parade piala keliling tok. Tapi akan ada dangdut koplo, wayang, lomba band, konser band, lomba mewarnai, dan lain-lain. Jadi bisa lebih interaktif dan tidak cuma satu arah. Tolong dipikirkan Pak Klopp, nanti saya yang bilang Pak Bupati.

Komentar

Postingan Populer