Golongan Putih Keabu-abuan
Kalimat di atas muncul tiba-tiba ketika saya menanyakan siapa pilihan saya besok saat nyoblos tanggal 17 April. Pertanyaan ini juga sering ditanyakan orang-orang kepada saya. Mungkin karena pilihannya bisa menentukan saya itu kaum apa(mungkin). Ya atau cuma kepo doang. Tapi saya selalu menjawab belum menentukan pilihan karena BINGUNG.
Kata bingung memang tepat untuk menggambarkan pilihan saya sampai saat ini. Menentukan duel klasik pilpres ini ngga kayak menentukan Lionel Messi dengan Cristiano Ronaldo yang saya sudah bisa menentukannya. Kalau menentukan antara Messi dan Ronaldo kelas saya pilih Ronaldo karena punya kemampuan yang ngga dipunyai Messi yaitu kepemimpinan. Tapi kalau Prabowo dengan Jokowi saya bingung. Seharusnya pilihan itu punya alasan jelas seperti saya memilih Ronaldo dibandingkan Messi.
Membandingkan pengalaman jelas tidak seimbang karena Jokowi sudah pernah menangani pemerintahan sedangkan Prabowo belum. Sedangkan program yang ditawarkan juga masih abu-abu. Menurut saya belum ada yang bisa menyakinkan dari segi program yang ditawarkan. Yang ada hanya hal-hal aneh dan sulit dipahami yang membuat saya mengreyutkan dahi sampe pusing. Jelas itu bukan suatu yang bagus.
Kedua paslon malah berlomba-lomba menyebarkan ketakutan kepada masyarakat demgan teori konspirasi ala-ala yang tidak berdasar. Memainkan ketakutan memang mampu meraih suara namun dampaknya sangat buruk. Ketakutan ini sedikitnya berkaitan dengan beban pemilihan gubernur DKI yang lupa dilepas sebagian orang.
Itu terlihat dari tema besar ketakutan yang coba kembali dibangun yaitu tentang invasi asing dalam hal ini China dan ketakutan perubahan bentuk negara menjadi khalifah. Keduanya tidak mencoba keluar dari narasi-narasi itu malah seakan membiarkan itu bergulir ditengah masyarakat. Walaupun tidak separah pilkada lalu tapi bara itu masih ada.
Menurut saya sih penggorengan isu ini jadi semacam kemalasan para paslon untuk meraih suara pemilih yang belum bisa diraih tim suksesnya. Contoh lainnya menggelar banyak deklarasi dukungan dengan perkumpulan yang menurut saya jadi seperti dipaksakan. Deklarasi dukungan dari pendidikan daerah a, golongan b, jenis pekerjaan c, dan bidang-bidang lain yang aneh. Saya tidak mengatakan perkumpulannya tapi cara para paslon yang ingin terlihat dapat dukungan dari berbagai lapisan masyarakat kepada pemilih yang masih bingung seperti saya. Terasa artificial menurut saya.
Golongan seperti saya kalau kata pengamat politik sih jumlahnya cukup banyak. Peluang besarnya berfikir menjadi golput atau golongan putih cukup terbuka lebar kalau melihat kondisi yang tidak berubah sampai sekarang. Padahal penentu kemenangan itu ada di swing voters seperti golongan bingung ini.
Golput mungkin selama ini di identikan dengan yang tidak mau tau atau masa bodoh sama politik,tapi sekarang beda. Golput ada dua tipe menurut saya yang keabu-abuan sama yang benar-benar putih. Untuk yang keabu-abuan itu golput karena merasa tidak terwakili oleh kedua paslon. Jualan yang ditawarkan selama kampanye yang kurang menarik dan program yang ngga mewakili jadi alasan mereka tidak memilih. Sementara yang benar-benar putih yaitu yang masa bodo terhadap politik.
Padahal pemerintah lewat KPU sering mewanti-wanti untuk tidak golput. Tapi apa yang dijual paslon sampai sekarang masih belum menarik. Debat yang sudah diselenggarakan KPU juga kentang, hampa, dan masih kurang dalam menggali setiap tema yang diambil. Mungkin saya termasuk golongan putih keabu-abuan sampai saat ini. Golongan yang saya sendiri pembuatnya dan saya sendiri juga anggotanya. Mau ikut?
Komentar
Posting Komentar